merchandise as memory

mengapa kita rela membayar mahal untuk kaos demi validasi ingatan

merchandise as memory
I

Mari kita jujur-jujuran sebentar. Pernahkah kita berdiri mengantre selama empat puluh lima menit, dengan kaki pegal dan keringat yang belum kering, hanya untuk membeli sebuah kaos hitam bergambar wajah musisi idola kita? Kaos itu tipis. Jahitannya biasa saja. Harganya? Mungkin setara dengan biaya makan kita selama dua minggu. Secara logika ekonomi, keputusan ini jelas tidak masuk akal. Kita tahu kita bisa mencetak desain yang sama persis di tukang sablon dekat rumah dengan harga seperlimanya. Tapi, kita tetap menggesek kartu atau memindai kode QR itu dengan perasaan puas yang luar biasa. Mengapa kita melakukannya? Apakah kita hanya korban kapitalisme yang mudah ditipu? Ataukah ada sesuatu yang jauh lebih dalam, sebuah dorongan purba yang diam-diam mengendalikan otak kita saat kita membeli barang-barang merchandise ini?

II

Untuk menjawabnya, kita harus mundur jauh sebelum konser musik pop atau taman hiburan modern diciptakan. Perilaku mengumpulkan benda dari sebuah tempat atau acara sebenarnya bukan murni penemuan industri modern. Ratusan tahun lalu, para peziarah di Abad Pertengahan yang berjalan kaki ribuan kilometer menuju tempat suci selalu membeli pilgrim badges atau lencana peziarah yang terbuat dari timah murah. Jauh sebelum itu, manusia purba membawa pulang batu-batu unik dari wilayah buruan mereka yang baru. Sejak dulu kala, umat manusia memiliki obsesi yang sama: kita sangat butuh membawa pulang "potongan" dari sebuah pengalaman. Secara psikologis, ini terjadi karena kita sadar akan satu fakta yang menyedihkan. Ingatan kita sangat rapuh. Otak manusia bukanlah kamera perekam yang sempurna. Seiring berjalannya waktu, detail warna, suara, dan emosi dari sebuah malam yang magis akan memudar. Kita tahu itu. Otak kita tahu itu. Jadi, kita mulai mencari jangkar fisik untuk menahan ingatan tersebut agar tidak hanyut ditelan waktu.

III

Namun, mari kita pikirkan lagi secara kritis. Argumen tentang "takut lupa" ini mungkin masuk akal di abad ke-12. Tapi hari ini? Kita hidup di era di mana setiap detik dari sebuah acara bisa kita rekam dalam resolusi 4K. Kita punya ribuan foto dan video di ponsel kita yang disimpan dengan aman di sistem cloud. Kalau tujuannya hanya untuk merawat ingatan, bukankah rekaman video berdurasi dua jam di ponsel sudah lebih dari cukup? Mengapa video resolusi tinggi itu terasa "kurang", sementara sepotong kain katun seharga ratusan ribu rupiah terasa sangat esensial? Ada ruang kosong yang aneh di sini. Sebuah teka-teki tentang bagaimana otak kita memproses realitas. Layar ponsel rupanya gagal memberikan satu jenis kepuasan spesifik yang sangat didambakan oleh sistem saraf kita. Pertanyaannya, kepuasan macam apa yang sebenarnya sedang kita beli dari meja suvenir tersebut?

IV

Selamat datang di dunia psychological essentialism. Ini adalah konsep dalam psikologi kognitif di mana manusia, secara tidak sadar, percaya bahwa sebuah benda bisa menyerap "esensi" atau energi tak kasatmata dari lingkungannya. Saat kita membeli kaos merchandise resmi tepat di lokasi konser, otak kita tidak melihatnya sebagai sekadar kain. Otak kita melihat benda itu telah "dibaptis" oleh atmosfer tempat tersebut. Kaos itu ada di sana, mendengar musik yang sama, dan bernapas di udara yang sama dengan kita. Ia memiliki esensi sejarah. Inilah alasan mengapa kaos sablon palsu tidak akan pernah memberikan lonjakan dopamin yang sama, meskipun gambarnya identik.

Selain itu, ilmuwan kognitif memiliki istilah yang disebut autobiographical memory atau memori otobiografis. Ini adalah cerita yang kita karang tentang siapa diri kita. Kaos, gantungan kunci, atau tiket fisik itu berfungsi sebagai cognitive offloading. Kita memindahkan beban ingatan kita ke benda fisik layaknya menyimpan data di flashdisk eksternal. Namun lebih dari itu, benda tersebut adalah sebuah validasi eksistensial. Membeli merchandise adalah cara otak kita membuktikan kepada diri sendiri bahwa pengalaman luar biasa itu benar-benar terjadi, bukan sekadar halusinasi. Benda itu menjeritkan satu kalimat penting bagi ego kita: "Saya ada di sana, saya hidup, dan ini adalah buktinya."

V

Pada akhirnya, hasrat kita untuk membeli merchandise mahal bukanlah tentang sikap konsumtif semata. Ini adalah bentuk perlawanan kita yang paling tulus terhadap waktu yang terus berjalan maju. Kita adalah makhluk yang penuh emosi, yang sering kali merasa takut kehilangan momen-momen terbaik dalam hidup kita. Setiap kali kita memakai kaos usang dari konser lima tahun lalu, atau melihat gantungan kunci norak dari liburan masa kecil, ada sirkuit di otak kita yang menyala, mengalirkan kehangatan memori ke seluruh tubuh. Jadi, mari kita berhenti merasa bersalah. Jika teman-teman esok hari kembali berdiri di antrean panjang suvenir dan merogoh kocek sedikit lebih dalam dari yang seharusnya, tersenyumlah. Kita tidak sedang sekadar membeli barang. Kita sedang membayar biaya asuransi untuk ingatan kita, dan berinvestasi pada kepingan identitas yang akan menemani kita menua nanti.